Buol, Seni  

KETEKUNAN Seorang Mami (Maryam G.Mailili)

Dalam karya : Al-Quran terjemahan Bahasa Indonesia dan Buol

Harian Sulawesi (7/5/2025) – Ini soal ketekunan, bukan kemampuan menterjemahkan ayat demi ayat Al-Qur’an, apalagi menafsirkan.

Karena Mami panggilan akrab Ibu Maryam G.Mailili bukan berlatar belakang lulusan Pesantren,

perguruan tinggi Agama jurusan IAT : Ilmu Al-Quran dan Tafsir, alumni Timur Tengah.

Ini juga “jauh” menyamai karya Colliq Pujie, perempuan Bugis penulis Sureq (naskah) La Galigo yang mendunia, mahakarya yang memuat 6.000 halaman, 300.000 baris teks,

tentang peradaban yang diceritakan dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno, dalam aksara lontara kuno.

Tapi ini inspirasi sebuah ketekunan, ketelitian, kesabaran menulis dari seorang Ibu ditengah keterbatasan, apalagi semenjak di tinggal sang suami tercinta, tulang punggung ekonomi keluarga.

Tiada hari tanpa menulis. Di sela sela menulis karya lain, seperti : Kamus bahasa Buol, cerita rakyat, pantun/panjung,

melayani wawancara untuk penulisan karya akhir mahasiswa, bimbingan untuk para pelajar, undangan terkait seni budaya.

Hari hari sang maestro boleh disebut demikian, adalah tiada hari tanpa menulis.

Kata demi kata, lalu dirangkai dalam kalimat lewat tulisan tangan yang dituangkan dalam lembaran kertas bergaris bolak-balik

dan kini tersimpan rapi pada 12 album ukuran besar. Sungguh sebuah ketekunan yang luar biasa.

Ditengah gempuran fasilitas serba digital, aneka aplikasi yang tersedia, serba kemudahan lewat android,

sudah sulit rasanya menemukan orang yang begitu setia dengan urusan tulis menulis secara manual, konvensional, seperti sosok seperti Ibu Maryam.

Jika bukan karena panggilan hati, ada cinta, tanpa di topang biaya, bukan sebuah proyek dari Kementerian Agama misalnya, rasanya mustahil mewujudkan karya mulia ini.

☑️ Apresiasi Bupati.

Bisa jadi karya Al-Quran terjemahan dalam bahasa Indonesia dan Buol ini, sebelumnya sudah terdengar oleh pihak-pihak terkait, utamanya pihak Pemda.

Hanya saja seperti pengakuan Ibu Maryam, mungkin karena keterbatasan anggaran sehingga belum menjadi prioritas untuk dibiayai.

Alhamdulillah, Bupati H.Risharyudi Triwibowo, MM, setelah mendapat kabar soal ini segera mendatangi sang maestro bahkan hingga dua kali.

Dalam pernyataan beliau, bukan hanya mengagendakan karya ini untuk di tindaklanjuti, meski ditengah pemangkasan anggaran,

juga menjanjikan untuk merenovasi kediaman beliau, sekaligus merancang khusus sebuah perpustakaan mini dalam satu paket.

Semoga niat dan usaha ini menjadi kenyataan, sama seperti respon, janji Pak Bupati pada sosok lain : Ibu Salmia Lupoyo, pencipta lagu Vhuoyo Lripu Koponuku ❤🤲🤲
——————————-

Editor: Suleman Latantu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *