Foto : Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buol Moh Kachfi Mardjuni, S.Pi
Penulis : Suleman Latantu
Harian Sulawesi | Buol – Kepala Pelaksana Badan Pelaksana Bencana Daerah Kabupaten Buol Moh Kachfi Mardjuni S.Pi mengatakan terkait adanya fenomena alam yang terjadi di gunung Pokobo Kecamatan Bunobogu, pihaknya telah melakukan pemantauan langsung ke lokasi pekan lalu.
Hal itu dilakukan guna memastikan adanya bencana longsor tersebut.
“Jadi kami sudah turun melihat langsung longsor tersebut. Namun secara tehnis kami belum bisa memastikan penyebab bencana tersebut. Dan untuk memastikanya kami sudah melaporkan ke BPBD Provinsi Sulteng sekaligus meminta untuk di lakukan penelitian oleh Ahli kebencanaan”, jelasnya kepada media ini
Berikut kemungkinan penyebab utama yang dilansir dari laman google
Tanah bergerak dan mengakibatkan longsor disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
– *Faktor Geologi*: Struktur dan litologi batuan yang lemah, seperti adanya bidang retakan pada batuan yang memungkinkan air masuk dan menyebabkan tanah bergerak.
– *Faktor Morfologi Wilayah*: Lereng terjal yang memudahkan ketidakstabilan tanah, serta erosi yang disebabkan oleh curah hujan tinggi.
– *Faktor Kondisi Fisik Wilayah*: Curah hujan yang tinggi, gempa bumi, dan aktivitas vulkanik dapat memicu tanah bergerak dan longsor.
– *Faktor Manusia*: Penambangan dan penggundulan hutan secara serampangan dapat menyebabkan tanah longsor.
Beberapa jenis tanah longsor yang umum terjadi adalah :
– *Longsor Translasi*: Bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.
– *Longsor Rotasi*: Bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.
– *Runtuhan Batu*: Jatuhnya batu atau material lain dari ketinggian.
– *Rayapan Tanah*: Pergerakan lambat tanah yang hampir tidak terlihat.
– *Aliran Bahan Rombakan*: Pergerakan massa tanah yang terdorong air dengan kecepatan tergantung kemiringan lereng dan volume material.
Tanda-tanda akan terjadi longsor antara lain ³:
– Munculnya retakan pada tanah atau bangunan
– Tanah atau bangunan yang tiba-tiba miring
– Air sumur yang tiba-tiba keruh
– Adanya penggelembungan atau amblas pada jalan aspal
Untuk mengurangi risiko longsor, perlu dilakukan upaya mitigasi seperti :
– *Penguatan Lereng*: Dengan bronjong kawat atau tanaman yang memiliki akar kuat.
– *Perbaikan Drainase*: Untuk mengurangi aliran air yang masuk ke dalam tanah.
– *Penanaman Vegetasi*: Dengan jenis tanaman yang memiliki akar dalam dan kuat untuk mengikat tanah.
Seperti di beritakan sebelumnya Fenomena alam kembali terjadi di Kabupaten Buol Sulawesi Tengah, tepatnya di Desa wilayah Pokobo Kecamatan Bunobogu.
Dimana sebuah gunung dengan sebutan Gunung Pokobo, secara tiba tiba longsor dan berdampak terjadinya bencana alam yang mengancam wilayah pemukiman warga desa Pokobo Kecamatan Bunobogu dan Desa Tayadun Kecamatan Bokat.
Sejumlah warga menuturkan, longsoran tanah gunung tersebut secara berangsur masih terus terjadi hingga saat ini. Dan akibat dari longsoran tanah itu, puluhan hektar lahan perkebunan warga yang sudah ditanami sudah tertutupi dengan tanah termasuk diantaranya pohon kelapa yang sudah produksi secara tiba tiba tumbang dengan sendirinya.
” Peristiwa ini sudah hampir sebulan terhitung sejak awal bulan ramadhan 1446 Hijriah. Dan umumnya warga belum mengetahui pasti penyebab terjadinya longsoran tanah gunung itu. Hanya saja fakta terjadi yang kami liat dilokasi adalah munculnya semburan air dari dalam tanah dan bercampur kerikil warna hitam” ucap sejumlah warga kepada media ini
Sementara hasil pantauan media ini menyebutkan, longsoran sepanjang hamparan gunung Pokobo masih terus bereaksi dan butuh perhatian dan penanganan serius dari pemerintah karena kondisinya saat ini makin bertambah parah.
Ironisnya, selain sudah berakibat terhadap perkebunan warga sekitar, juga longsoran tanah itu nyaris menutupi aliran sungai antara Desa Pokobo dan Desa Tayadun. Jika aliran sungai saat ini akan tertutupi dengan longsoran tanah, sudah pasti air sungai akan meluap dan mengancam pemukiman warga di dua itu termasuk areal persawahan milik warga Desa Pokobo yang luasanya hampir puluhan hektar.
Sementara Kepala Desa Tayadun Kecamatan Bokat Mardin A. Baharu S.Sos kepada media ini membenarkan adanya peristiwa fenomena alam yang terjadi.
Menurutnya peristiwa ini muncul sejak bulan ramadhan tahun ini. Dan akibat peristiwa itu kerugian yang dialami masyarakat sudah cukup besar karena lahan perkebunan mereka sudah menjadi korban dari longsoran tanah tersebut.
“Dan lahan perkebunan mereka itu umumnya sudah ditanami tanaman pertanian serta pohon kelapa yang sudah berproduksi” jelasnya.
Sehingga dengan peristiwa itu, pihaknya bersama masyarakat pada umumnya berharap agar pemerintah segera turun tangan untuk mengatasinya sebelum terjadi dampak negatif yang lebih besar, tandas Mardin.(**)













