Mahasiswa Aliansi Merah Putih Blokade Simpang 5 Kota Gorontalo

Akses Jalan Lumpuh Total

DEMO MAHASISWA – Mahasiswa pendemo memblokade Simpang 5 Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo pada Senin (1/9/2025), 

Harian Sulawesi | Gorontalo – Mahasiswa pendemo memblokade Simpang 5 Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo pada Senin (1/9/2025),

Mengutip Liputan Tribun Gorontalo.com, Simpang lima tersebut merupakan jalur vital yang menghubungkan Kota Gorontalo dengan Kabupaten Gorontalo.

Massa yang menamakan diri Aliansi Merah Putih bergerak dari Kantor DPRD Kota Gorontalo di Jalan Jhon Ario Katili, lalu memblokade ruas jalan hingga arus lalu lintas lumpuh.

Pantauan di lokasi, sejumlah aparat kepolisian yang berjaga terdeteksi sangat minim.

Hanya terlihat beberapa personel polisi lalu lintas yang berusaha mengatur kendaraan agar berbalik arah.

Sementara itu, para pengunjuk rasa tampak duduk bersila memenuhi badan jalan. Mereka mendengarkan orasi yang dilakukan secara bergilir oleh perwakilan mahasiswa.

Suasana di tengah panas terik tetap dipenuhi sorak-sorai dan yel-yel perlawanan.

Tercatat 36 organisasi mahasiswa bergabung dalam aksi ini. Mereka menegaskan bahwa blokade jalan adalah simbol kekecewaan terhadap DPR RI dan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.

Aksi di Simpang 5 ini merupakan bagian dari gelombang demonstrasi serentak di Gorontalo, di mana sebelumnya mahasiswa juga memusatkan aksinya di DPRD Provinsi, Kantor Gubernur, Polresta, hingga Bundaran Saronde.

Hingga siang ini, situasi terpantau kondusif meski arus kendaraan di jalur utama Kota Gorontalo menuju Kabupaten Gorontalo benar-benar lumpuh.

Tuntutan PMII

Dalam dokumen yang ditandatangani Pengurus Koordinator Cabang PMII Gorontalo, mahasiswa menilai rakyat semakin dicekik dengan naiknya pajak, membengkaknya tunjangan pejabat, serta mahalnya harga kebutuhan pokok.

Di sisi lain, aparat dianggap berubah menjadi alat kekuasaan yang kerap bertindak represif terhadap mahasiswa dan rakyat.

“Rakyat dicekik! Tunjangan pejabat digembungkan, pajak naik, harga kebutuhan pokok ikut naik. Sementara aparat berubah menjadi alat kekuasaan menghajar mahasiswa, membungkam rakyat, merampas ruang demokrasi,” demikian isi pernyataan PMII Gorontalo.(**)

Penulis: Wawan Akuba | Editor: Aldi Ponge

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *