PARIMO, Sulawesi Tengah – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong menseriusi pelestarian tradisi lokal melalui proyek literasi bertajuk penulisan buku “Daur Hidup Masyarakat”.
Program ini difokuskan pada dokumentasi adat istiadat empat suku besar di daerah tersebut agar tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Parigi Moutong, Ninong Pandake, mengatakan proyek ini telah berjalan selama tiga tahun terakhir dan kini memasuki tahap penyelesaian untuk suku keempat.
“Kita menulis bagaimana kebiasaan masyarakat mulai dari dilahirkan di muka bumi ini sampai dengan wafatnya. Ini dilakukan agar tradisi kita tidak hilang dan bisa menjadi pedoman serta arsip bagi anak cucu kita nanti,” ujar Ninong.
Penulisan buku dilakukan secara bertahap setiap tahun dengan mengangkat empat suku utama di Kabupaten Parigi Moutong, yakni Suku Kaili pada tahun pertama, Suku Tajio pada tahun kedua, Suku Lauje pada tahun ketiga, dan saat ini tengah berlangsung penyusunan untuk Suku Tialo.
Dalam proses penyusunan, Disdikbud melibatkan narasumber lokal yang memiliki pemahaman mendalam terkait adat dan budaya masing-masing suku.
Khusus untuk Suku Tialo, dinas menggandeng tokoh masyarakat setempat, Ardi Salama, sebagai salah satu sumber utama.
Meski jumlah cetakan masih terbatas sekitar 20 eksemplar sebagai draf awal, pemerintah daerah telah menyiapkan langkah lanjutan berupa bedah buku secara serentak untuk keempat suku tersebut.
“Setelah penulisan suku Tialo selesai, kita akan mengadakan bedah buku untuk semuanya. Hasilnya nanti akan disempurnakan sebelum diperbanyak dan disebarluaskan, termasuk untuk kebutuhan perpustakaan,” jelas Ninong.
Upaya ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam menjaga identitas budaya Parigi Moutong, sekaligus menjadi referensi ilmiah bagi peneliti dan generasi muda di masa mendatang. (**)
Editor : Sumardin (Pde)













