Dari Aktivis ke Penggerak Ekonomi, Perjalanan Hengky Idrus Angkat Potensi Durian Parimo

Oleh: Salihudin

PARIMO, Sulawesi Tengah Perjalanan hidup Hengky Idrus menunjukkan bahwa semangat perubahan dapat menemukan jalannya dalam berbagai bentuk.

Dulu, Hengky dikenal sebagai aktivis dengan energi besar. Ia merupakan alumni Fakultas Pertanian Universitas Tadulako dan pernah menjabat sebagai Ketua BEM. Pada akhir 1990-an, ia juga aktif sebagai pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Palu, serta menjadi bagian dari gelombang gerakan Reformasi 1998 di Sulawesi Tengah.

Lingkungan organisasi dan dinamika gerakan mahasiswa membentuk cara berpikirnya yang kritis dan terbiasa berada di garis depan perubahan. Namun kini, arah perjuangannya bertransformasi.

Hengky beralih ke dunia usaha dengan mengembangkan komoditas durian, sektor yang dinilai memiliki potensi ekonomi besar.

Bersama istrinya yang juga menjabat sebagai Ketua Kadin Parigi Moutong, ia membangun usaha berbasis pertanian lokal dengan orientasi pasar global.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Mereka tercatat telah dua kali melakukan ekspor durian ke Tiongkok. Pada ekspor kedua, volume mencapai 459 ton dengan nilai lebih dari Rp42 miliar.

Capaian itu tidak hanya menjadi keberhasilan bisnis, tetapi juga menunjukkan bahwa Parigi Moutong memiliki peluang besar dalam perdagangan internasional melalui komoditas pertanian.

Yang tak kalah penting, pengembangan usaha ini juga melibatkan petani lokal. Hengky bersama timnya mendorong pembinaan petani melalui Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia, sebagai wadah penguatan kelembagaan dan akses menuju pasar ekspor.

Melalui pendekatan tersebut, petani tidak hanya menjadi pemasok, tetapi juga bagian dari rantai nilai yang lebih luas, termasuk dalam upaya hilirisasi produk durian.

Perjalanan Hengky mencerminkan perubahan bentuk aktivisme. Jika dahulu dirinya aktif menggerakkan massa di ruang-ruang demonstrasi, kini ia menggerakkan potensi ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian.

Dari jalanan menuju kebun, dari gerakan menuju pemberdayaan, langkahnya menunjukkan bahwa semangat perubahan dapat terus hidup, dengan cara yang lebih berkelanjutan dan berdampak luas bagi masyarakat.

Mantan ketua KNPI Parigi Moutong dan sekarang sebagai Ketua Presidium Aktifis 98 Sulteng (PENA 98) terus melakukan inovasi.

Editor : Sumardin (Pde)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *