PARIMO, Sulawesi Tengah – Polemik terkait klaim ekspor durian ke Tiongkok oleh PT Pondok Durian Sulawesi terus menjadi sorotan publik. Klarifikasi terbaru dari manajemen menyebutkan bahwa hingga kini belum ada aktivitas ekspor yang dilakukan, karena belum miliki ijin ekspor.
Managing Director perusahaan, Putu Edi Tangkas Wijaya, menegaskan bahwa perusahaan masih dalam tahap persiapan administratif dan teknis untuk menuju pasar internasional.
“Semua masih berproses. Kami belum melakukan ekspor dan masih melengkapi seluruh perizinan yang dibutuhkan,” ujarnya.
Pernyataan ini sekaligus meluruskan informasi sebelumnya yang sempat berkembang di publik mengenai pengiriman durian dalam jumlah puluhan ton.
Berdasarkan penjelasan manajemen, klaim tersebut merupakan bagian dari target dan rencana jangka panjang, bukan realisasi saat ini.
Sejumlah tahapan yang masih berjalan meliputi pengurusan legalitas, penyiapan fasilitas packing house berstandar ekspor, serta koordinasi dengan Balai Karantina Indonesia untuk memastikan kelayakan produk.
Sorotan publik muncul karena perusahaan sebelumnya telah diresmikan oleh pemerintah daerah, yang menimbulkan persepsi bahwa kegiatan ekspor sudah berjalan.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan perusahaan masih beroperasi sebagai rumah produksi yang melayani pasar domestik.
Sejumlah pihak menilai, perbedaan antara narasi awal dan kondisi faktual ini penting untuk diklarifikasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat maupun mitra usaha.
Dalam praktiknya, ekspor komoditas pertanian seperti durian memerlukan proses panjang dan ketat, mulai dari pemenuhan standar mutu, persetujuan karantina, hingga realisasi pengiriman. Tanpa tahapan tersebut, aktivitas ekspor belum dapat dikategorikan sebagai resmi.
Manajemen perusahaan pun menyatakan komitmennya untuk menuntaskan seluruh proses sesuai aturan sebelum benar-benar melakukan ekspor ke pasar global.
Diresmikan Gubernur, Namun Belum Siap Ekspor
Sorotan semakin menguat mengingat perusahaan tersebut telah diresmikan langsung oleh Gubernur Sulawesi Tengah. Momentum yang seharusnya mencerminkan kesiapan operasional justru dinilai tidak sejalan dengan kondisi faktual di lapangan.
Di sejumlah kalangan, berkembang pandangan bahwa narasi yang dibangun sebelumnya terlalu prematur dan melampaui kesiapan riil perusahaan.
Pemerintah Dan Mitra Merasa Tergiring
Situasi ini turut memunculkan respons dari berbagai pihak. Sejumlah unsur pemerintah dan mitra usaha mengaku merasa tergiring oleh narasi yang terlanjur berkembang, sehingga menimbulkan ekspektasi yang tidak sesuai dengan kenyataan. (**)
Editor : Sumardin (Pde)













