Harian Sulawesi | Parigi – Kobaran api kembali mengganas di wilayah Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong.
Sedikitnya lima hektare lahan perkebunan warga di Dusun I Desa Gangga ludes terbakar dalam insiden kebakaran lahan yang terjadi Sabtu malam (7/1/2026) sekitar pukul 19.00 Wita.
Api baru berhasil dipadamkan empat jam kemudian, setelah polisi dan warga berjibaku dengan peralatan seadanya.
Kebakaran terjadi di kawasan padang bambu yang dipenuhi material kering, membuat api cepat membesar dan menyebar.
Informasi awal diterima Bhabinkamtibmas Desa Lemusa, Aiptu Royke Marthen Luter R, dari warga yang melihat kobaran api mulai tak terkendali di tengah cuaca panas.
“Begitu laporan masuk, kami langsung bergerak. Api sudah membakar lahan perkebunan warga dan berpotensi menjalar ke area lain,” ujar sumber kepolisian di lokasi.
Tak lama berselang, personel Pospol Parigi Selatan dan anggota jaga Polsek Parigi yang dipimpin langsung Kapolsek Parigi IPTU Noldy Williams Sualang tiba di lokasi.
Tanpa armada pemadam, petugas bersama warga bertarung melawan api menggunakan tangki air gendong, ember, baskom, hingga alat seadanya.
Proses pemadaman berlangsung dramatis. Api akhirnya berhasil dikendalikan dan dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 23.00 Wita.
Akibat peristiwa tersebut, lahan perkebunan milik almarhum Mengkuru Pakou terbakar seluas kurang lebih 3 hektare.
Sekitar 1.000 pohon cokelat dan tanaman lombok siap panen musnah, dengan kerugian ditaksir mencapai Rp5 juta.
Sementara itu, lahan milik Lodi, warga Desa Olaya, juga terdampak. Sekitar 2 hektare bibit cokelat rusak akibat kebakaran, dengan kerugian diperkirakan Rp2 juta. Total lahan terdampak mencapai 5 hektare.
Meski kerugian materi cukup signifikan, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Situasi selama pemadaman dilaporkan aman dan kondusif.
Kapolsek Parigi IPTU Noldy Williams Sualang menegaskan bahwa kebakaran lahan merupakan ancaman serius, terutama di tengah cuaca panas dan musim kering.
“Kami turun langsung memastikan api tidak meluas ke pemukiman. Kebakaran ini diduga dipicu faktor alam dan kelalaian manusia, diperparah banyaknya material kering seperti bambu dan rumput. Kami mengimbau warga tidak membuka lahan dengan cara dibakar,” tegasnya.
Ia juga menyoroti minimnya sarana pemadam kebakaran di wilayah pedesaan yang menjadi tantangan utama dalam penanganan karhutla.
“Ke depan kami tingkatkan patroli, sosialisasi pencegahan karhutla, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa, TNI, dan BPBD agar kejadian serupa tidak terulang,” tambah IPTU Noldy.
Polsek Parigi memastikan akan terus melakukan pendataan, pengamanan lokasi, dan edukasi kepada masyarakat, khususnya di wilayah rawan kebakaran di Kecamatan Parigi Selatan. (**)

Wartawan: Pde













